Meraih Hikmah dari Gagal Fokus

Pagi ini saya gak bisa melakukan aktivitas menimba ilmu bersama di kampus. Sejak kemarin pusing dan badan gak enak, gak fit. Inginnya rebahan di kasur saja. Tapi tugas-tugas menumpuk. Sayang sebenarnya materi studi hari ini, tetapi rasanya badanku gak kuasa memaksakan diri. Maka …saya pun mengirim kabar ke salahsatu teman lewat sms dan WA pagi ini.

daan …karena mungkin gak fit, gagal fokus hape-ku pun tersenggol bruggh jatuhlah ke lantai. spontan kuraih lagi, hasilnya nge-blank. deh. Yang bingung kemarin saya nanyain pada orang yang pesen barang, Sabun Kecantikan Mutiara Keraton, apakah sudah transfer belum? rencananya hari Jum’at saya akan mengirim barang. Sayangnya, nama lengkap dan alamatnya di picture WA belum disalin ke kertas.

Jadi …saya bingung, bagaimana menghubunginya? Saya ingin menghindari salah faham dengan calon pembeli itu.

Semoga yang merasa pesan barang tersebut bisa mengontak/sms nomer saya..jangan hanya mengandalkan aplikasi WA.

Pelajaran hikmah pagi ini yang bisa kuambil, kalaulah bertransaksi dengan orang lain harus segera dituliskan. segera tuliskan apapun. Jangan anggap remeh sesuatu, sesuatu yang terjadi semuanya penting. Pelayanan pada orang lain harus diutamakan–pakailah sudut pandang orang lain, jangan dirimu. Itulah kira-kira pelajaran yang bisa diambil hari ini.

 

Wisata Kota Swiss van Java 2

Wisata kota hari kedua, 28 Juli. Kami meneruskan jejak yang tersisa kemarin. Kali ini kami cukup dekat tinggal lurus dari meeting poin Mono Bar, jalan Bank ke arah timur sejauh 100 meter. Sebuah gedung Kantor Kecamatan Garut Kota. Setelah memarkir kendaraan, rombongan langsung spontan mengambil gambar bangunan yang unik dengan bagian menaranya, mirip menara pemantau. Setelah ditelusuri riwayatnya bangunan ini bekas rumah Belanda, yang kemudian difungsikan menjadi Markas Tentara dan di zaman republik jadi Markas TRI. Dan Sempat jadi tempat belajar (Kampus Unpad Fakultas Ekonomi).FB_IMG_1469684841482

Baca lebih lanjut

Wisata Kota Swiss van Java

Pagi itu 27 Juli lalu, saya merencanakan keliling kota tua Garut. Tanah leluhur yang eksotis laksana negeri Swiss di jantung Eropa, dengan keindahan gunung Alpen. Pantaslah bila sejak tahun 1920-an Garut dikenal dan dikunjungi para pelancong dunia, seperti bintang film Charlie Chaplin, Ratu Wilhelmina, sastrawan Chile Pablo Neruda, dan lainnya.

Dibarengi teman-teman yang memiliki kepedulian pada persoalan pendidikan dan budaya. Kami berkumpul di jalan Bank merumuskan spot jalan-jalan dalam kota untuk semacam napak tilas dadakan yang kami anggap bernuansa sejarah dan mungkin berbau heritage. Demi kebersamaan kami baru meluncur jam 11. Maka  kami memutuskan tidak berjalan kaki, tetapi menggunakan kendaraan.

Jejak pertama disambangi, jalan Panji Wulung. Titik terdekat dari tempat kumpul. Apa itu Panji Wulung? Nama jalan yang unik, satu-satunya jalan yang ada di kota Garut. Panji Wulung adalah tokoh dalam cerita fiksi klasik Sunda (Wawacan Panji Wulung), sebuah karya sastra dari sastrawan Sunda, Raden Haji Moehammad Moesa—Hoofd Penghulu Limbangan.

IMG_20160727_113428 [800x600]

Jl. Panji Wulung (dok.YSM)

Titik kedua yang diburu adalah Alun-alun Garut. Kami mengambil gambar Babancong (tempat pidato bupati tempo dulu), meski mirip dengan aslinya—ini sudah hasil renovasi. Di sebelah selatan terdapat gedung Pendopo dulu lokasi gedung Pamekang (rumah tinggal bupati). Di sebelah utara alun-alun kami mengambil gambar gedung Bakorwil—bekas lokasi gedung Asisten Residen Belanda. Di timur gedung Penjara, dan Masjid Agung di baratnya adalah hasil renovasi tahun 1994-1998. Sekitar tahun 1813 areal bangunan administrasi pemerintahan, masjid dan alun-alun dibangunnya.

Jpeg

Masjid Agung (dok. Pribadi)

Jpeg

Babancong, tempat pidato bupati (dok.Pribadi)

Baca lebih lanjut

Juli, Antara Kenangan dan Harapan

Entah kebetulan atau tidak. Juli bulan yang berkesan di hatiku. Kenangan masa kecil, pertama aku menginjak bangku sekolah dimana aku memasuki kehidupan baru. Mengukir jejak langkah yang kelak jadi kenangan demi kenangan indah.

Juli, jadi penanda prestasi masa kecil. Aku si anak kampung yang ingin maju seperti anak-anak lainnya. Aku anak kampung yang tak ingin kampungan. Ingin meraih asa berprestasi ta kalah dengan anak-anak kota sebaya.

Dan bersyukur. Ketekunan dan kerja keras berbuah indah. Hari demi hari kuukir di sekolah. Setiap tahun dan kenaikan kelas, aku selalu tampil jadi siswa teladan, putera harapan, penerus geenerasi masa depan…ah itulah yang diidamkan. Bukan karena ingin jadi idaman.

Tepat 23 Juli,30 tahun yang lalu…aku masih berseragam Merah Putih. Betapa membanggakan. Aku si anak kampung mampu berjuang dari bawah. Mengungguli anak-anak kota sebaya, yang kebanyakan anak-anak para pejabat di kota kabupaten kami.

Saat itulah, 23 Juli aku dibawa bincang-bincang orang no satu di kabupaten kami. Siapa?tentu saja pak bupati saat itu. Di Gedung Islamic Centre, yang tempo dulu dikenal dengan Hotel Villa Dolce, di zamannya Swiss van Java dikenal. Oleh-oleh karena aku jadi siswa pilihan, yang sempat mewakili daerah kami dipentas Jawa Barat.

Ah, serasa baru kemarin saja. Pantas saja kemudian akupun diwawancara seorang wartawan dari Majalah Sahabat. Konon untuk profil siswa teladan. Betapa senangnya hatiku, dengan prestasi begitu tentu membahagiankan ayah ibu.

Kini, 30 tahun kemudian..ayah kami sudah tiada. Tetapi ibu sudah tergolek lemah di pembaringan, dimakan usia. Aku bersedih belum bisa membahagiakannya. Kubisikan padanya, aku akan berusaha kembali menimba ilmu. Dan meraih gelar yang tertunda…tujuh tahun lalu, yang sempat kujanjikan bisa kuraih. Demi ingi kubuktikan aku anak kebanggaannya yang berprestasi.

Dan ibuku tersenyum. Dia mendoakan demi sukses anaknya. Karena kabar gembira, aku lulus ujian pascasarjana di kampus yang sempat tertunda. Senyumannya seakan energi untuk kebangkitanku kembali.

Aku amat menyadari, apapun yang kuraih, kuperoleh prestasi atau apapun yang kadang membanggakan atau dibanggakan orang lain pada diriku, sesungguhnya tak ada nilai apa-apa. Aku hanyalah orang lemah dan bodoh. Semuanya itu hanya atas izinNya dan doa restu ibu yang membuatnya terjadi.

Di hari Anak Nasional ini, aku mengenang kembali masa lalu dan menatap masa kini. Aku bukan anak-anak lagi. Tetapi aku tetap anak yang harus berbakti pada ibu kami. Ibu yang laksana rembulan di malam hari, atau seperti matahari di siang hari.

Di Hari Anak Nasional, aku sempat dikenal. Hari ini tepat di Hari Anak Nasional, kembali namaku dibaca sebagai salahsatu bagian generasi calon intelektual. Tapi aku bukan apa-apa, tanpa kehadiran dan perananmu, ibu. Diriku adalah wujud kesukaesanmu.

Selamat Hari Anak Nasional. Selamat istiqomah berkhidmat pada ibu.
Parijs van Java, 23 Juli 2016, jam 22.47.

 

Situ Raja tinggal nama

Juli. Julia. Juliana.

Tiga kata yang bersumber sama. Juli sebutan bulan keenam dalam kalender Masehi. Konon diambil dari nama Kaisar Julius. Bulan Juli identik dengan awal memasuki tahun baru sekolah. Itu yang kuingat. Setiap masuk sekolah–Negeri atau non Pesantern–biasanya tahun ajaran dimulai bulan Juli. Entah mengapa harus tengah-tengah tahun Masehi diawalinya. Adakah yang tahu?

Julia. Aku teringat seorang “murid” (peserta belajar) ketika aku masih ngajar luar biasa di sebuah kampus swasta. Bukan seorang gadis atau perempuan muda, tapi seorang ibu rumahtangga yang penuh semangat belajar.Rasa ingin tahunya tinggi, terlihat sering bertanya. Dan pula berani menyampaikan pendapat. Lagi pula aku mengajari semuanya supaya aktip, karena aku selalu mengawali belajar dengan kalimat kita belajar bersama.

Ketiga, Juliana. Nama seorang Ratu Belanda puterinya Ratu Wilhelmnina. Seorang muda cantik dan berani mengambil kebijakan berbeda dengan ibunya. Ia tidak begitu konservatif, tetapi lebih bersifat terbuka. Mungkin karenanya di masa pemerintahannya terjadi perubahan-perubahan..Aku pun ingat nama Ratu ini mungkin yang sering pernah disebut-sebut ayah, sebagai Ratu yang menikah dengan Pangeran Bernhard. Kenapa ingat ini? Ayah pernah menceritakan kalau Ratu dan Raja ini pernah berkunjung ke daerah, dan konon sempat “kokojayan” (berenang) di sebuah danau kecil (situ), maka disebutlah kemudian tempat itu sebagai “Situ Raja”.

Sayang kini Situ Raja itu sudah tiada. Bahkan namanya pun menjadi asing di telinga orang. Sebuah Situ dimana air mengalir keluar dari bawah pohon besar di kaki bukit. Kini jangankan air, sawah-sawah yang dulu sempat terlihat setelah SItu itu dijadikan lahan pertanian sudah tiada, berganti daratan dan bangunan. Sawah-sawah produktif di sekelilingnya pun kini sudah hampir punah, digunakan jadi jalan dan bangunan.

Tasbih Jalanan

“Allahu Akbar Allah Maha Besar Kumemuja-Mu ….”demikian suaranya sayup merdu ditiup angin siang itu. Seakan menyalip aroma bau pakaian lusuh, celana jeans belel pendek dan asesoris tatto di lengannya.

Tapi…siang itu hatiku aneh. Tidak menatap lusuh dan bau busuknya yang terasa oleh hidungku. Aku menemukan suara kerinduannya pada sang Maha Agung. Dan aku pun tak memedulikan lagi, apakah ia busuk, jelek, kotor, atau bergambar tatto. Aku merasakan ada nada indah di suaranya yang lembut menyanjung asma Tuhan.

Barangkali dia sedang dipinjam Tuhan untuk mengingatkan kami sesama penumpang bis Primajasa itu. Aku merasa tertunduk malu. Sangat boleh jadi dia tampak seperti itu tetapi jiwanya masih mau melantunkan asma Tuhan di bulan Ramadan ini. Soal jadi alat komersialisasi dirinya~peduli amat. Toh itu pertanggunganjawabnya dengan sang Maha. Bukan urusanku.

Aku sedang merasa diingatkan. Orang yang bertampang sangar dan lusuh seperti itu jiwanya masih ada kelembutan, kenapa kita yang hidup terpelajar kenapa tidak berjiwa kasih sayang dan penuh kelembutan. Oh, Ramadan. Bukankah kau hadir mengajarkan kelemahlembuatan, kasihsayang dan kepedulian sesama…Suatu yang kini semakin tergerus abrasi mental rakus pujian, rakus jabatan, rakus materi keduniawian.

Ya Allah, apakah ini tidak bertabrakan dengan doaku pada-Mu untuk tidak disatukan dengan orang-orang zalim dan menzalimi. Satukan dengan orang yang jiwa pengasih penyayang. Jauhkan dari orang sombong dan jauhkan aku dari sifat sombong, yakni menolak kebenaran karena nafsu bukan karena ilmu.

Itulah dia “tasbih jalanan” sang pengamen. Dia sedang bersyukur dengan suara indah yang dikaruniakan Tuhan. Jangankan manusia, bintang-bintang seperti burung ppun bertasbih pada-Mu. Begitu pun angin yang berdesir itu menyebut nama-Mu.

Lalu sudahkah kami di sini senantiasa mengingat-Mu di setiap tarikan nafas pemberian-Mu. Oh, betapa ini mengingatkanku pada mu wahai sang Guru.

 

 

 

 

 

Ibuku, Jalan Hidupku

Memandang ibu yang tergolek sakit. Oh betapa hati rasa hati bergetar. Kaget dan khawatir, di saat datang dalam mimpiku. Dan …memang nyata ibuku beberapa hari sakit, tepat beberapa hari kami terpaksa tinggalkan saat ke luar menjenguk mertua dan memenuhi urusan.

Betapa hari-hari berlalu, kondisi ibu membuat haru. Jasamu tak bisa aku hitung satu-persatu, betapa karunia nikmat hidup ini teralami berkat jasamu. Aku sekarang berpendamping istri yang baik, itu karena doamu dan saranmu. Berkarir dan berpendidikan tinggi tak lepas dari jasamu, waktu, materi dan doamu selalu menyertaiku. Gelar disandang saat wisuda tak akan ada tanpa kehadiranmu.

Bahkan hari-hariku ini tak mungkin terjadi tanpa perananmu. Aku kini memasuki usia dewasa, tetapi aku tetap anakmu yang banyak berhutang budi dan tak akan bisa membalasnya, hingga tutup usia. Jasamu nan abadi untuk hidup kami. Bahkan nafas kehidupan ini hadir karena engkau korbankan jasad dan jiwamu.

Baca lebih lanjut